Email  
Password  
Lupa Password ? | Register
KoKiHumor
/ Home /
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
HAHA, My Titanic Experience
Miedy Bishop - San Diego

Saya terbangun seketika dan melihat tante dan oma sudah mengenakan pelampung. "Kebakaran! Api sudah menjalar di dek tujuh," kata Tanteku dengan suara panik.

Ya Tuhan. Apakah kami akan mati hari ini?

Tahun 1998. Saya masih ingat dengan jelas fenomena film Titanic. Bioskop pada penuh. Banyak siswa bolos sekolah cuma karena ingin melihat Leonardo DiCaprio. Ada yang sampe menonton berkali-kali. Tak heran jika film ini menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa.

Saya ikutan nonton juga. Iya, filmnya memang bagus. Tapi, saya tidak sampai tergila-gila dengan DiCaprio. Not my type... Hahaha. Special efeknya juga bagus, terutama adegan tenggelamnya kapal. Itu adalah adegan favoritku.

Tapi, siapa sangka suatu hari nanti, saya akan berada di situasi yang hampir sama dengan penumpang Titanic.

Tahun 2000. Saya, tante, oma dan papa saya barusan jalan-jalan ke Surabaya dan Semarang. Saya waktu itu masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Manado. Demi jalan-jalan, saya bolos kuliah selama dua minggu.

Kami berangkat ke Surabaya dengan menggunakan Kambuna. Saat balik juga dengan kapal yang sama. Kali ini kami memilih untuk membeli tiket kelas empat, bukan lagi ekonomi seperti saat berangkat. Ini kali keenam saya naik kapal laut, ketigakalinya bagi oma saya, dan mungkin puluhan kali bagi papa saya. Sedangkan tante saya, ini baru keduakalinya. Ini memang perjalanan pertama tante keluar daerah.

Siapa sangka setelah itu jaman keemasan kapal laut di Indonesia akan segera pudar. Orang-orang lebih suka naik pesawat ketimbang diombang-ambingkan ombak di laut. Perjalanan yang memakan waktu empat-lima hari bisa ditempuh sekitar tiga jam di pesawat.

Saya sekamar dengan tante dan juga oma (sementara papa saya berada di dek lain yang khusus pria).  

Selain kami, ada dua orang cewek seumuran saya (asyikkk... ada teman untuk jalan-jalan, nih). Yang satu sebut saja Martha, asal Sangihe Talaud. Sudah bertahun-tahun tidak pulang ke Sulawesi Utara. Kemudian ada Linda, dari Bandung, hendak ke Gorontalo karena ada acara keluarga.

Selain itu ada Ibu Maria, asal Papua (waktu itu masih Irian Jaya). Balik ke Irian setelah ikut semacam konferensi (atau pelatihan kali) guru di Surabaya. Jadi, dia sebenarnya pergi berombongan, tapi dapat kamarnya bersama kami.

Saya langsung akrab dengan Martha dan Linda, begitu juga dengan oma dan tante. Sayangnya, Ibu Maria lebih sering nongkrong di tempat "teman-teman serombongannya"  dan cuma balik ke kamar saat saat malam hari saja.

Entah karena sifatnya yang pemalu dan pendiam ditambah badannya yang besar dan tegap, omaku kerap merasa gugup kalau bersua dengannya (teman-temanku banyak yang berasal dari Papua dan umumnya mereka itu murah senyum, suka tertawa dan bercanda. Jadi yang satu ini benar-benar pengecualian, deh).

Akhirnya sudah dua hari kami di Kapal. Besoknya akan singgah di Ujung Pandang (atau Balikpapan, saya lupa yang mana). Yang jelas, hanya dalam waktu dua hari, kapal akan merapat di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, tujuan akhir kami, sebelum kemudian naik mobil menuju Tondano.

Pagi itu, seperti biasa Ibu Maria tidak kelihatan batang hidungnya. Di kamar hanya ada saya, tante, oma dan Martha. Kami barusan sarapan. Mau jalan-jalan, rasanya seluruh pelosok kapal sudah saya telusuri.

Ya, sudah. Mending bobo lagi aja.

Sayapun tertidur.

Entah beberapa lama saya tertidur. Saya juga tidak tahu apa yang membuat saya terbangun. Tapi, ketika saya membuka mata, Linda tidak di kamar, begitu juga Ibu Maria. Hanya ada Martha, oma dan tante. Semuanya memakai pelampung.

Saya masih dalam keadaan setengah sadar, jadi tidak tahu persis apa yang terjadi.

"Kebakaran! Api sudah menjalar di dek tujuh," kata tanteku dengan suara panik.

Saya tersentak. Sempat kepikiran ini pasti hanya mimpi buruk.

"Kebakaran sudah menjalar di dek tujuh," kata tante lagi. Dia sudah melingkarkan jaket pelampung di pinggang (padahal seharusnya dipakai seperti rompi).

Oma juga tidak tahu menahu bagaimana memakai pelampung yang benar. Pelampung memang sudah bertengger di bahunya, tapi sepertinya kelihatan tidak  seimbang. Tapi, saya sendiri tidak tahu apa yang salah. Pokoknya hanya Martha yang sepertinya mengenakan pelampung dengan tepat.

"Ya Tuhan.... Tolonglah kami,"  tangis Martha. "Mama... papa.... tolong saya." Air matanya bercucuran. Saya yakin saat itu dia tengah menangisi kemungkinan takkan pernah berjumpa lagi dengan orang tuanya, kali ini untuk selamanya. Bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman. Kini malah hampir dijemput malaikat maut.

Saat itu saya sadar apa yang saya saksikan benar-benar nyata. Ya Tuhan, saya akan mati hari ini.

Saya melompat dari tempat tidur. Padahal saya tidur di "tingkat" kedua (apa ya namanya tempat tidur yang dua tingkat gitu?). Saya tidak peduli bila kaki keseleo, saya hanya ingin bisa selamat dari musibah ini.

"Cepat pakai pelampungmu! Nanti Ibu Maria datang dan merampasnya darimu," teriak oma.

Saat itu apa yang dikatakan oma kedengarannya sangat masuk akal di telingaku. Terbayang badan besar Ibu Maria. Mana bisa saya yang kurus kering ini berhadapan dengannya?

Saya langsung mengambil pelampung yang tersisa di atas lemari. Baru sadar, biarpun penumpang di kamar kami berjumlah enam orang (kapasitas kamar untuk delapan orang),  pihak kapal hanya menyediakan empat pelampung saja!

Oma, tante, Martha dan aku saling mendorong-dorong saat keluar kamar. Tante berada di depan, kemudian Martha, saya dan oma. Kita semua berlari di lorong kapal mencari jalan keluar. Saya masih belum mengenakan pelampung karena masih sibuk membaca instruksi yang tertulis. Pelampungnya sudah tua dan berdebu, makin mempersulit saya mempelajarinya. Oma terus mendorong-dorong saya.

"Jangan dibaca sekarang! Nanti pelampungmu dirampas," teriak oma lagi.  Tanteku semakin jauh meninggalkan kami. "Elly," oma memanggil tante. "Jangan tinggalkan saya."

"Ma, kita harus cepat.  Kalau tidak semua sekoci akan penuh dan kita tidak kebagian," ujar Tante sambil terus berlari.

Anehnya, sepanjang lorong, tak kelihatan seorangpun.

Mungkinkah semua orang sudah berada di sekoci? Ya Tuhan, mungkinkah hanya kami yang tersisa?  

Saya juga tak melihat adanya asap. Barangkali, api memang belum menyentuh dek kami.

Sampai kemudian kami melewati seorang bapak yang menatap kami dengan pandangan bingung. Dia hanya bersandar di dinding tanpa mengatakan apa-apa, seperti orang kehilangan kesadaran.

Astaga! Dia pasti sudah tak waras lagi akibat panik. Saya teringat sebuah adegan di film Titanic. Di tengah musibah, karakter yang diperankan DiCaprio dan Winslet sempat berpapasan dengan seorang pria yang juga sudah kehilangan akal sehatnya.
 
Ya, sudah. Kami tinggalkan saja bapak itu. Tokh, dia sudah gila jadi malah beruntung tidak perlu merasakan apa yang kami rasakan.

"Ya Tuhan, badan kita akan dimakan ikan," tangis oma.

Ada sebuah jendela di depan kami, dan saya bisa melihat sebuah pegunungan berwarna biru karena jaraknya pastinya masih ratusan bahkan mungkin ribuan kilometer. Tapi, ini memberikan sebercah harapan.

"Oma, jangan khawatir. Kita dekat daratan, kita mungkin akan selamat," kataku.

Omaku sepertinya tidak mendengar apa yang saya katakan karena dia terus mengulang-ulang soal "bakal dimakan ikan" tersebut.

Sekitar beberapa meter di depan kami, ada seorang crew kapal yang sedang duduk. Dia juga memakai pelampung. Oh tidak, ini konfirmasi kalau memang sedang ada kebakaran.

Tiba-tiba aku teringat akan papaku. Jangan-jangan dia tidak tahu kalau kapal akan akan segara tenggelam. Jangan-jangan dia sedang tidur siang. Saya memutuskan untuk belok kanan menuju dek khusus pria. Sementara oma dan tante sepertinya akan belok kiri menuju ke dek tempat sekoci disimpan. Tanteku tetap berada di paling depan.

Tapi, sebelum kami belok. Si crew kapal yang tetap tidak beranjak dari duduknya mengatakan sesuatu kepada tanteku.

"Ibu...Mau kemana, bu?" tanyanya. Tanteku tidak peduli dan tetap berlari. "Ini CUMA latihan!"

Kami semua mendengar apa yang dikatakannya. Tapi masih belum sadar juga.
Sampai kemudian tanteku berpaling. Mukanya merah seperti udang rebus.

"Hehe... Ini cuma latihan," katanya sambil tertawa menahan malu.
 
Saya, oma, dan Martha cuma saling memandang dengan perasaan tidak percaya. Dan entah siapa yang mulai, kami berlarian ke kamar kami bak dikejar setan.

Sesampainya di sana, kami semua tertawa terpingkal-pingkal sampai tidak bisa bernafas. Malu setengah mati. Tapi juga lega karena ternyata tidak ada kebakaran dan kami rupanya belum akan mati hari itu.

Tak lama sesudah itu, Linda datang dengan handuk di pundaknya. Rupanya ketika kami sedang berusaha "menyelamatkan diri dari musibah". Linda sedang mandi.

Ketika kami menceritakan pengalaman kami, Linda tak bisa berhenti tertawa sampai terguling-guling di lantai (benar, lho!). Ketika bapaknya datang dia langsung cerita dan bapaknya juga ikut tertawa terpingkal-pingkal.

Siang itu, papa saya seperti biasa datang ke kamar kami supaya kami bisa makan siang bersama. Ketika mendengar cerita saya, papa saya juga tidak bisa menahan tawa.

Katanya,"Kalau ini menimpa oma dan tantemu, saya bisa paham karena mereka jarang naik kapal. Tapi, KAMU sudah berkali-kali. Kok bisa sebodoh itu?"
 
Saya langsung membela diri. Ceritanya, ketika saya sedang tidur, oma, tante dan Martha mendengar pengumuman dari pengeras suara. Bunyinya seperti ini:

Saat ini kami akan mengadakan latihan pemadam kebakaran. Jika alarm terus-terusan berbunyi. Ini artinya kebakaran sedang berlangsung.

Dan supaya para penumpang tahu bagaimana bunyi alarm yang dimaksud, maka merekapun membunyikan alarm tersebut (herannya, saya tetap aja tertidur).  

Api sudah di dek tujuh. Para penumpang dipersilahkan untuk menaiki sekoci
.

Saat itu tante, oma, dan Martha langsung mengambil kesimpulan, karena alarm TELAH berbunyi, maka memang telah terjadi kebakaran.

"Selain itu saya sedang tidur siang. Mana tahu kalau itu latihan atau tidak. Coba bayangkan bagaimana perasaan saya begitu terbangun dan melihat mereka sudah memakai pelampung," jelas saya kepada papa (dan kemudian kepada setiap orang yang tahu soal pengalaman kami ini), masih membela diri.

Malam itu, Ibu Maria masuk ke kamar. Seperti biasa, tanpa kata dan senyum. Langsung menuju tempat tidurnya dan berbaring menghadap dinding.

Pandangan saya dan oma bertemu. Saya tahu, oma merasa bersalah telah menuduh yang bukan-bukan terhadap beliau, saya juga. Tapi, mau minta maaf, rasanya gengsi dan malu juga. Ibu Maria juga tidak pernah tahu soal pengalaman kami.

Malam itu saya berbaring di tempat tidur. Masih tersenyum geli memikirkan apa yang terjadi hari itu, sekaligus merasa lega  karena masih hidup (selama hidup, saya tidak pernah merasa kelegaan sebesar yang pernah saya rasakan saat itu).

Tiba-tiba, saya teringat akan seorang bapak yang memandang aneh ke arah kami ketika kami sedang berdorong-dorongan di sepanjang lorong mencoba menyelamatkan diri.

Astaga, beliau ternyata tidak gila. Tentu saja dia memandang bingung ke arah kami yang berlarian dengan memakai pelampung. Pasti di pikirannya, kamilah yang gila. 
 


 
MODERATOR - Penanggungjawab: ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: zeverina@kompas.co.id ; zeverina.koki@yahoo.co.id

1 dari 6 Halaman Komentar | First Prev Next Last

Setelah ngakak membaca ceritamu,aku jadi piluh.....duh.Inget Manado terus...Inget kawanku anak Gorontalo-waktu kost di Surabaya tahun 1995.Ia biasa naik kapal laut.Ia pulang kampung garah-garah digebuki anak kampung Tanjung Perak.Ingat Abangiparku; orang asli Tomohon yang kawin dg mbak ku di Situbondo. Ingat cewekku,gadis Manado,yg tinggal di rumah abangnya di kampung Seratus-Perak Sby.Ia terlalu cantik,mbanting banget sama aku.Pantes kalo aku diputusin.

Posted by: similikithik | Minggu, 3 Agustus 2008 | 23:35 WIB

ihhhhhhhhhh.............lucu ya................

Posted by: lisa | Jumat, 1 Agustus 2008 | 09:02 WIB

Meidy..oh ...kamu bikin aku tertawa sampai keluar air mata. Salam buat Oma dan Tantemu ya.

Posted by: ira | Jumat, 1 Agustus 2008 | 08:27 WIB

Hi, makasih ya atas komentarnya.Senang bisa membuat para kokiers tertawa or at least tersenyum. Memang seharusnya judulnya mungkin "My Tampomas Experience" lebih tepat. Tapi alasan kenapa saya pake "Titanic", karena waktu saya kira kapal benar-benar terbakar dan mungkin akan tenggelam, adegan Titanic yg pertama kali muncul di benak saya. Gitu deh. Oke, sekali lagi terima kasih atas komentarnya ;)

Posted by: MajFrukt | Minggu, 27 Juli 2008 | 10:16 WIB

jadi inget pengalaman di kampus di Perth, waktu itu ada latihan kebakaran, eh, nggak tahunya pas ada "kebakaran" beneran, kita nya nggak pada percaya, jadi masih pada tinggal di dalam ruangan sampai akhirnya diusir keluar. Untungnya ternyata bukan kebakaran yang parah, hanya makanan gosong di microvawe yang asapnya lumayan parah...

Posted by: mvrmw | Minggu, 27 Juli 2008 | 06:29 WIB

Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
advertisement
Polling
Sebagai debut perdananya, andai KoKi Enterprise akan membuat buku, kira-kira tulisan siapakah yang menarik dan punya nilai jual? ( */ Prabu )





Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort