|
|
|
KoKiHumor
/ Home /
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Akibat Krisis Gombal ....
Fire - Yogyakarta Suatu kali saya melirik deretan sepatu lawas yang sudah lama teronggok di rak (yo jelas tho, mosok sepatu teronggok di dalam kulkas, emang mau dibikin puding?) dan terlihat berdebu. Rupanya cukup lama tak terjamah oleh sentuhan tangan (dan kaki) manusia. Padahal dulu sudah merelakan diri untuk diinjak-injak dan meski menghirup bau jempol kaki yang terkadang overdosis, tapi tetap setia melindungi tuannya. ... Baiklah, saya akan coba membersihkannya. Sewaktu mencari-cari gombal untuk dipergunakan sebagai lap sepatu, saya baru teringat, kalo gombal terakhir yang masih tersisa, beberapa hari lalu sudah terpakai untuk memplitur meja kursi. Tentu saja gombal yang sudah mengeras dengan plitur mengering tersebut sudah tidak dapat lagi dipergunakan sebagai lap. Sudah hunting kesana-kemari tidak juga menemukan gombal lain yang masih memenuhi syarat. Astaga, baru tersadar kalo di rumahku sudah terjadi krisis gombal. Terpaksalah, harus bongkar-bongkar lemari untuk melakukan 'gombalisasi', selain mengurangi kepadatan populasi di lemari. Soalnya kalo tidak kepepet begini, biarpun ada pakaian yang robekan/bolongannya segede mulut buto angop (menguap), tetap eman-eman mau disingkirkan.
Sejumlah kandidat bakal dinominasikan untuk menjadi 'gombal-citizen' dan dideportasi. Tidak peduli apakah itu kaos oblong, kaos dalam, celana dalam, handuk, kaos kaki. Pertimbangan utama akan dititikberatkan pada kondisi robekan/bolongan yang dimilikinya. Kaos oblong, biasanya bagian ketiak lebih cepat bolong (entah, apakah ada hubungannya dengan intensitas bau ketiak dari penggunanya?). Lebih menarik lagi untuk diciduk kalo banyak bekas noda yang sulit hilang karena tumpahan makanan yang pating kecemot. Kaos dalam, kalo bolongnya di bagian belakang, malah lebih cepat kelihatan, apalagi kalo sedang pakai kemeja warna putih. "Lho, kaos dalam kamu bolong, ya?", temanku kok lebih cepat tahu dari pengguna kaos dalam itu sendiri, selain itu sepertinya dia juga rajin mengawasi apakah orang lain pakai kaos dalam terbalik (hiks ... itu dulu lho, sekarang .... masih ...). Kita lanjutkan kandidat berikutnya, yaitu kaos kaki. Sebenarnya ini bukan pilihan favorit, karena luas permukaannya yang minim untuk dipakai sebagai lap. Kaos kaki bisa diciduk, jika tidak lagi memiliki pasangan, atau sudah kendur sehingga mlotrok terus. Kalo cuma bolong dikit-dikit atau di tumit sepertinya masih bisa ditolerir, meski kadang mengganggu kenyamanan juga kalo jari kaki jadi nyangkut. Tahukah teman-teman, mengapa kaos kaki cepat bolong di tumit? Kandidat terakhir yang akan ditengok adalah celana dalam. Kalo cuma bolong-bolong di sisi belakang, sepertinya tidak mengurangi unjuk kerjanya, atau malah lebih isis? Mungkin bisa mengurangi performa penampilan bagi yang sering tampil dengan celana dalam (siapa tuh?). Baru saat ada bolongnya di sisi depan, kalo pas kebablasan dan sampai 'mrojol' kan bisa menimbulkan potensi kerawanan yang mengganggu stabilitas. Hayo ... celana dalam panjenengan lebih cepat bolongnya di depan atau di belakang? Hmmm ... apa ya penyebabnya, jangan-jangan kelebihan muatan?
Lho kok jadi ngomongin soal bolongan? Karena kebanyakan gombal yang saya temui jarang yang utuh, kebanyakan sudah bolong-bolong. Jadi kalo pakaian yang bolong-bolongnya sudah melebihi kuota, maka perlu dipertimbangkan untuk pensiun dini. Kecuali kalo pakaian tersebut mempunyai kenangan khusus tersendiri. Pertimbangkan pula koordinat dari bolong-bolong tersebut, apakah sekiranya terletak pada posisi yang masih bisa ditolerir dan tidak terlalu mencolok. Pernah suatu kali saya bingung mencari-cari kaos dalam yang kemarin dicuci kok hilang. Jebulnya sudah disambar buat ngelap-ngelap. "Habis kaosmu itu bolongnya udah segede gaban kayak gitu kok, jadi kukira gombal", katanya memberi alasan dengan wajah yang cukup innocent meski tak mampu mengalahkan innocent-nya kaos dalamku tersebut. Mungkin perlu standar tertentu, apakah sesuatu bisa diklasifikasikan sebagai gombal. Dengan begitu tidak terjadi lagi krisis gombal akibat defisit lap untuk bersih-bersih. Meski secara struktural sudah bebas tugas, tapi para gombal ini memiliki akses yang lebih menyeluruh, termasuk daerah yang enggan dijangkau lainnya. Kenapa ya orang sering mempermasalahkan asal-usul dari sebuah gombal? Saya teringat seorang teman yang mencari gombal untuk lap motornya. Ketika saya sodorkan sebuah gombal yang cukup bersih dia ragu-ragu menerimanya, seolah sedang memegang benda bermuatan radioaktif. Dia malah memilih gombal lain yang sebenarnya sedang dijemur karena masih basah dan memerlukan pemanasan gombal. Mungkin itu karena sentimen negatif saja. Padahal celana dalam bekas tersebut sebelum ditempatkan sebagai gombal, sudah dicuci terlebih dulu. Kalo pun ada warna kuning-kuning yang sedikit nggedibel di situ, itu kan karena pernah dipakai melap besi yang berkarat. Toh kalo dipake untuk ngelap motor, penampilan motornya tidak bakal berkurang oleh "pesona asli" dari gombal yang dipergunakan. Sepertinya tetap sama kinclongnya, apakah gombal itu berasal dari bekas celana dalam, kaos kaki, atau popok bayi. Atau kalo agak risih menggunakan sisi inside-nya, kan bisa pake bagian outside-nya saja untuk ngelap. Ah, mungkin lain kali sebelum pakaian dalam bekas dijadikan gombal, perlu dicuci dulu dengan kembang tujuh rupa, yah semacam detoks biar nggak kuwalat, he he. Saya pernah baca, konon David Beckham, kalo berganti celana dalam selalu dengan yang baru. Nah, yang lamanya dikemanain ya? Kalo sehari ganti dua kali, bila dikumpulin terus kan jadi banyak, celana dalam bekas itu mungkin bisa dijual di butik gombal berkelas. Jadi semacam high-class-gombal atau gombal kelas premium khusus buat yang bercita rasa tinggi dan selera eksklusif (kurang lebih begitulah promo iklannya). Beneran lho, gombalnya para selebritis itu kalo dilelang bisa jadi laku mahal, entah mau dipake buat ngelap apa, he he. Kalo perlu sebelum dijual tidak usah dicuci dulu, supaya orisinalitasnya tetap terjaga. Konon bekas popoknya Angelina Jollie, eh popok anak bayinya, kalo dilelang lebih laku ketimbang popok wewe. Mengapakah dalam banyak hal seringkali kesalahan ditimpakan pada gombal. Jika ada yang tertipu dibilangnya termakan rayuan gombal, ada yang tidak menepati janji dibilangnya janji gombal. Memang sudah nasib si gombal harus membersihkan banyak kotoran. Kasihan juga nasib gombal, padahal tanpa keberadaan gombal akan banyak kerepotan. Jangan lupa pula untuk mencuci gombal, supaya kotorannya tidak bertumpuk terus, biarpun itu cuma gombal amoh atau gombal mukiyo (ada yang tahu bagaimana kabar si mukiyo sekarang, titip salam ya?, moga-moga belum ada yang mematenkan namanya). Persiapkan pula cadangan gombal secukupnya untuk bermacam kegunaan, kita tak pernah tahu kapan memerlukannya saat terjadi krisis gombal. Baiklah teman-teman, bagaimana kriteria panjenengan menyeleksi gombal favorit? Apakah itu berdasarkan kuantitas bolongan, diameter, atau komposisinya?
NB: Berikut disertakan contoh-contoh gombal yang ada di sekitar rumah kita, di antaranya, kaos kaki bolong dan kaos kaki yang sudah dibedah, celana dalam bolong dan bekas popok, daster bekas yang sudah robek. Selebihnya, kalo Mamak masih ada stok gombal silakan dipajang , duh jadi mbayangin Mamak ngaduk-aduk Gettyimages buat cari gombal. Perlu diingat, gambar-gambar berikut hanyalah sekedar sample, kenyataannya bisa lebih 'menakjubkan'.
_______________________________________ ILUSTRASI FOTO-FOTO Dok Fire - Yogyakarta MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: zeverina@kompas.co.id ; zeverina.koki@yahoo.co.id ; kokizeverina@gmail.com
|
advertisement
|
|
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
|
|
About Kompas.com | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
© 2008 - 2009 Kompas Gramedia. All rights reserved |