Email  
Password  
Lupa Password ? | Register
KoKiTour
/ Home / KoKiTour /
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Bertamasya ke Kuburan
Lucia Dian kurniawati - Yogyakarta

Apa yang Anda bayangkan jika anda mendengar kata "kuburan"? Pastinya, di benak Anda yang ada adalah tempat ziarah, mistis, horor, penuh nisan berjajaran, pohon kamboja, pohon kenanga, taburan bunga mawar, gundukan tanah, menyeramkan, dan lain lain.

Bagaimana jawaban Anda jika sya ajak Anda pergi bertamasya ke kuburan? Pasti jawaban Anda sebagian besar adalah "Gila kamu, kuburan kok untuk tamasya?" Dan bagaimana jika saya menawarkan pada Anda kalau kita akan menikmati teh atau kopi beserta kue kue hangat yang tersedia di kafe, yang merupakan bagian dari tempat memakamkan orang ini?

Jangan berkecil hati dulu. Karena sebelum saya diajak oleh saudara saya ke tempat ini pun, saya berpikir bahwa mereka sudah gila mengajak saya bertamasya ke kuburan ini, apalagi dengan bujukan akan makan dan minum menikmati sejuknya dan hijaunya kuburan ini. Bulu kuduk serasa berdiri, dan membayangkan kita akan menikmatinya bersama makhluk-makhluk alam gaib.

 

 

San Diego Hills. Taman pemakaman yang terletak di Karawang, dekat kota ibukota Jakarta ini. Pemakaman yang mempunyai konsep lain dengan pemakaman lainnya. Konsep bahwa suatu kuburan bukanlah suatu tempat yang dianggap seram lagi, bukan tempat untuk terus menerus bersedih karena orang yang disayangi telah meninggal dunia. Bukan tempat yang sepi dan angker untuk dikunjungi.

Bayangkan, anda berjalan-jalan di bukit dengan hamparan rumput yang hijau, namun anda tidak merasa bahwa anda menginjakkan kaki di kuburan! Ya, karena kuburan tersebut tanpa nisan sama sekali. Yang ada  hanyalan plat-plat baja yang ditanam dan diukir nama-nama almarhum/almarhumah. Sama sekali tidak terlihat bahwa bukit-bukit nan indah itu adalah kuburan. Yang saya bayangkan waktu itu, bukit ini cocok sekali untuk bermain golf!

Sekarang coba tengok ke sebelah bukit. Karena saya datang pada waktu petang hari, saya dapat melihat matahari yang terbenam dengan pantulan sinar kemerahannya yang berrefleksi di air danau buatan. Sungguh indah sekali pemandangan ini, apalagi danau ini menyediakan dek kayu untuk kita melihat matahari terbenam. Bahkan ada perahu kecil yang dapat kita sewa untuk mengelilingi danau ini. Sungguh romantis sekali jika suatu saat saya dan pasangan saya menikmati keindahan alam ini di sini. Mungkin yang mempunyai hobi fotografi seperti saya, akan membayangkan bahwa tempat ini juga romantis untuk foto prewedding atau mungkin sekaligus pesta wedding di sini.

 

 

Setelah melihat pemandangan dari dek, saya berjalan naik ke atas menaiki beberapa anak tangga yang lumayan banyaknya. Cukup melelahkan, namun di tengah perjalanan, saya berhenti sejenak. Saya melihat kolam renang! Dan waktu itu, ada sepasang anak muda yang sedang berenang sambil bermesraan di sana. Kolam renang itupun didesain dengan indah, seperti kolam renang yang biasa kita lihat di hotel resort di Bali. Istilah kerennya leisure pool. Di sana juga terdapat kursi kursi jemur dan payung-payung seperti yang biasa kita lihat di kolam renang lainnya. Juga ada fasilitas kafe yang menyajikan makanan dan minuman ringan. Jika malam hari, lampu-lampu sorot dari dasar kolam renang dan pojok-pojok tamannya akan menimbulkan sensasi romantis, menyambung dengan keromantisan sang danau.

Untuk fasilitas utama dari kuburan ini, yaitu Kapel dan Masjid untuk beribadah kematian. Kedua tempat religius ini juga didesain dengan apiknya dengan sentuhan khas art deco. Nuansanya seperti jika kita berjalan-jalan di salah satu negara di Eropa. Desain bangunan yang berbata ekspos, atap kapel yang menjulang tinggi meruncing, dinding yang bercat putih, dan anak-anak tangga sebagai pintu masuk ke kapel. Masjid juga dibuat dengan sentuhan art deco dengan bata ekspos, cat putih, atap dome (blendug), dan pintu masuknya yang mengingatkan kita pada dongeng 1001 malam. Nuansa religius sangat terasa dan begitu megah serta indah dengan tanaman tanaman seperti bunga-bunga di sekitarnya dan pohon pohon cemara di sekitar kedua bangunan ini.

 

 

 

Setelah menikmati kemegahan kedua tempat religius ini, saya beranjak berjalan melalui selasar yang beratapkan pergola dengan tanaman rambat di atasnya, menuju ke salah satu kafe. Selasar inipun dibuat dengan nuansa art deco Eropa dengan kolom-kolomnya yang bebentuk silinder putih berukir berjajaran, lampu lampu gantung di setiap kolom, dan semak semak berbunga di tepi selasar.

Setelah sampai di kafe, saya dan saudara saya disambut oleh pelayan kafe yang berbaju hitam putih dengan pita kupu-kupu khas pelayan restauran di Eropa. Kami duduk di salah satu pojok yang bisa dengan jelas memandang air danau yang berkilauan karena lampu-lampu di tepiannya. Pelayan pun membagi menunya kepada kami. Hmm.. makanan yang disediakan pun makanan khas Eropa seperti spaghetti, lasagna, salad, dan berbagai macam soup. Minuman juga minuman khas kafe Eropa seperti kopi, teh, dan berbagai macam wine. Benar benar berasa di Eropa!

 

 

Jadi, melalui pengalaman saya pergi ke San Diego Hills, apakah Anda masih takut untuk bertamasya ke kuburan? Mari dicoba, setidaknya konsep kuburan semacam ini tidak akan membuat persepsi orang menjadi buruk lagi terhadap kuburan. 

Atau anda penasaran dengan harga kapling kuburan di sini? Datang saja dan hubungi marketing officenya. Yang jelas, memang mahal, dan kebanyakan makam di sini adalah makam orang kaya dan berkelas tinggi.

 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: zeverina@kompas.co.id ; zeverina.koki@yahoo.co.id
 

 

1 dari 9 Halaman Komentar | First Prev Next Last

Ada yg tahu, kenapa namanya San Diego Hills? Mungkin krn konsepnya ke barat banget? Org barat selalu makan2 di restoran sesudah menguburkan seseorang. Disini pasti ada funeral home juga. Orang berduit itu jeli cari celah bisnis di tanah air.

Posted by: non sibi | Senin, 20 Oktober 2008 | 11:23 WIB

mbak lucia..saya kl ke kuburan suka bawa sapu dan korek api...buat nyapu larahan(sampah daun2 kering) trs dibakar dite4 yg jauh dr te4 kuburnya...suka ngelap2 porselinnya eyang saya juga......memanjatkan doa tabur bunga dah pulang hehehe...saya suka nengok leluhur kekubur itu salah satu acara rutin saya kl pulang kampung

Posted by: suika-nagoya | Minggu, 19 Oktober 2008 | 21:42 WIB

tergantung kebiasaan adat setempat sih... gak jarang di Jepang juga kuburan bisa jadi tempat wisata..(tapi tergantung kuburan siapa dulu he..he..he.. kek kuburan tokugawa dll) kalo kuburan orang2x biasa sih walaupun cukup megah keknya cukup untuk ziarah aja deh..

Posted by: iif | Rabu, 15 Oktober 2008 | 09:02 WIB

tamasya ke kuburan? hahhaha, kayak orang lagi survey rumah masa depan aja. Cepat atau lambat kita akan punya, ga perlu survey hihih.. Tapi kalo ada yang minat, Pemakaman Cikadut Bandung, bisa jadi alternatif tamasya malam Jumat Kliwon tuh, jangan lupa berfoto ya, siapa tau ada penampakan...

Posted by: anak bintang | Senin, 13 Oktober 2008 | 22:19 WIB

Dari masa ke masa, kultur ke kultur, kuburan mewah selalu ada. Lihat saja Piramid Mesir, Kubur batu di Sumba, Tugu-tugu di ladang Orang Batak...

Posted by: Handuk | Senin, 13 Oktober 2008 | 11:35 WIB

Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
advertisement
Polling
Zev, saya ikutan nyumbang polling ya… Kenapa sih KoKiers bisa terkenal? ( */Silvia U )





Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort