Email  
Password  
Lupa Password ? | Register
KoKiTour
/ Home / KoKiTour /
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Kampung Suku Minoritas Miao dan Dong
Nunung Kusuma - Beijing

Propinsi Guizhou terkenal sebagai propinsi yang banyak terdapat suku minoritas, terutama suku minoritas Dong dan Miao. Kota Kaili adalah salah satu kota yang mempunyai populasi suku minoritas terpadat, bahkan jumlahnya lebih banyak dari Suku Han dengan perbandingan kurang lebih 80% - 20%. Kaili merupakan ibukota Qiandongnan Autonomous Prefecture (qian dong nan zhou), sebuah daerah yang dianugerahi status ‘daerah khusus’ karena keunikannya. Suku Miao dan Dong hidup berdampingan secara harmonis. Di antara mereka ada juga yang melaksanakan pernikahan antar suku, juga dengan suku Han. Tetapi suku Miao dan Dong mempunyai kebudayaan yang berbeda. 

 

 

Pemerintah kota Kaili sedang giat-giatnya mempromosikan turisme Kaili yang mengandalkan keanekaragaman budaya suku minoritasnya. Mereka mendambakan suatu hari mereka dapat menjadi seperti Lijiang di Yunnan yang turismenya booming di dalam dan luar negeri dalam waktu beberapa tahun saja. Untuk mencapai kota Kaili, para turis harus terbang terlebih dahulu ke kota Guiyang (???), ibukota propinsi Guizhou dan dilanjutkan dengan perjalanan darat sepanjang kurang lebih 195 km selama dua jam melewati jalan gunung yang berliku. 

 

 

Kaili merupakan kota yang bersih, berkembang, dan tentu saja unik karena penduduknya di mana suku minoritas menjadi mayoritas di sana. Di setiap sudut kota Kaili, bisa ditemukan wanita-wanita suku Dong ataupun Miao masih mengenakan pakaian tradisional dan menata rambut mereka secara tradisional pula dengan cara menyelipkan sekuntum bunga di rambut mereka. Pekerjaan mereka sehari-hari kebanyakan adalah bertani dengan hasil bumi mayoritas berupa padi, jagung, cabe, labu dan sebagainya. Suku Miao yang masih tinggal di rumah-rumah tradisional mempunyai kebiasaan untuk menggantung hasil bumi mereka di depan rumah untuk melambangkan kesuburan dan kemakmuran. 

 

 

Pada hari-hari raya, wanita-wanita suku Miao mengenakan pakaian khusus yang sangat mewah. Perhiasan yang mereka kenakan semuanya terbuat dari perak asli dan dibuat oleh tangan mereka sendiri. Hiasan kepala mereka sering menyerupai tanduk kerbau, melambangkan pemujaan mereka terhadap kerbau. Konon satu pakaian lengkap harganya bisa senilai lebih dari 100.000 yuan (1yuan=+/-Rp.1400). Sungguh angka yang fantastis. Tetapi darimanakah uang sebanyak itu, terlebih pendapatan mereka sebagai petani sangatlah minim? Konon perak sebanyak itu adalah perak milik negara yang diberikan kepada suku Miao karena mereka dipercaya sebagai pengrajin perak yang paling handal. Pakaian pria suku Dong dan Miao jauh lebih sederhana. Perak hanya dapat ditemukan di ikat pinggang mereka. Pada hari-hari raya, para pria meniup alat musik tradisional yang bernama Lusheng (??) yang terbuat dari bambu, di mana para wanita menyanyi dan menari dengan irama yang khas dan suara yang nyaring.

 

 

Suku Miao tradisional hidup berkelompok di gunung-gunung. Konon suku Miao sendiri masih terbagi dalam beberapa bagian yang lebih kecil tergantung dari gunung mana mereka tinggal. Hal ini dapat dibedakan dari model pakaian mereka yang sedikit berbeda satu sama lain. Kebanyakan yang masih hidup di gunung-gunung tinggallah orang-orang tua, karena para generasi muda meninggalkan kampungnya untuk bekerja di daerah yang lebih maju seperti Guangzhou dan Shenzhen di Propinsi Guangdong.

 

 

MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA

Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: zeverina@kompas.co.id ; zeverina.koki@yahoo.co.id


 

1 dari 4 Halaman Komentar | First Prev Next Last

Mbak Nung, saya pernah ke propinsi di utara Vietnam di perbatasan China tahun 1995. saya juga pernah berfoto dengan orang Miao, tapi di Vietnam. Tapi foto tersebut entah kemana sekarang. Aku tunggu ya risetnya

Posted by: Handuk | Senin, 13 Oktober 2008 | 22:50 WIB

makasi smua atas komennya... @handuk n BA.. waduh belom saya riset lebih lanjut suku Miao ini. nanti kalo sudah ketemu jawabannya saya update lagi yah.. makasih maunya juga upload banyakan secara masi banyak foto yg lucu2.. tapi sekali upload cuma bisa 4 foto yah? hiks hiks

Posted by: Nununk | Senin, 13 Oktober 2008 | 22:46 WIB

Great artikel Nunung. Apakah suku Miao sama dengan yang ada di perbukitan Vietnam yang berbatasan dengan China?

Posted by: Handuk | Senin, 13 Oktober 2008 | 22:10 WIB

wah asyik juga berkunjung ke sana, thanks liputannya Nunung

Posted by: Plux | Minggu, 12 Oktober 2008 | 23:17 WIB

Mbak Nunung ceritanya menarik, saya plg senang baca/nonton kisah2 suku suku Cina(terutama yg terpencil dan masih asli banget budayanya) . nanti kalo jalan jalan lagi cerita lagi ya, ta tunggu.

Posted by: bethj | Minggu, 12 Oktober 2008 | 01:22 WIB

Anda harus login untuk memberi komentar pada Artikel ini...
advertisement
Polling
Zev, saya ikutan nyumbang polling ya… Kenapa sih KoKiers bisa terkenal? ( */Silvia U )





Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort