|
|
|
KoKiLove
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Sex in d Kost
Lembayung - SOLO the spirit of Java Dia mulai memainkan jari telunjuknya di bibir saya… digesekkannya ke kiri dan kanan dengan halus, tidak ditekan tetapi sedikit diangkat, sensasinya membuat rambut tangan saya berdiri semua. Saya memejamkan mata sambil berdoa supaya ibu kost saya tidak tiba-tiba lewat. Telunjuk itu sepertinya sudah tak sabar ingin ekspansi… pelan-pelan sang pembuat sensasi itu membuat jalan baru, turun dengan hati-hati ke bawah…. Melewati sebuah bukit kecil, berhenti sebentar di sana lalu mencubit halus bukit kecil itu, bukit tunggal di bawah bibir saya. Perjalanan telunjuk segera diteruskan…lurus ke bawah…. lewat ngarai leher dengan kulit yang tipis. Badan bergetar, nafas tersengal, mata terpejam antara menikmati dan sekali lagi bergumam agar ibu kost tidak lewat… Ketika leher seperti tercekik karena terkena hembusan nafas nafsu yang hangat yang terasa semakin panas mendekati kulit ngarai itu….tiba-tiba srek….srek….srek…. terdengar suara sandal ibu kost saya tanda akan lewat. Cak-cek…cak-cek…. Segera merapikan cara duduk, jaga jarak dan pasang tampang serius menekuni Marketing Management Kottler yang memang selalu siap di tumpukan paling atas meja saya. Padahal nafas masih pendek-pendek dan jantung berdentum keras.
Merelakan anaknya hidup sebagai anak kost, pastilah bukan merupakan keputusan yang mudah bagi para orang tua. Apalagi fenomena terkini yang sering ditayangkan di televisi cenderung mengangkat sisi negatif kehidupan dunia kost-kost-an. Seolah mengangkat wacana bahwa anak kost identik dengan seks bebas. Bagi para pelakunya, mungkin tidak peduli ada cap semacam ini, tetapi bagi para anak muda yang ingin bersungguh-sungguh sekolah di Jogja, di suatu perguruan tinggi yang sudah lama dia cita-citakan harus berbenturan dengan wacana penghakiman sepihak, dari lingkungan, dan orang tua. Wacana itu sempat membuat angka pelajar dan mahasiswa baru di Jogja menurun beberapa waktu yang lalu. Jogja sang kota pelajar, ditakutkan akan merubah anak mereka menjadi kurang ajar… Saya tidak menyangkal dan mengakui bahwa (setidaknya di Jogja, entah di kota lain) pastilah banyak praktek seks bebas. Baik itu oleh mahasiswa, pelajar SMU, atau bahkan pelajar SMP sekali pun. Bisa jadi mereka melakukannya di kost, atau mungkin juga di hotel dan losmen. Tidak hanya sekali dua saya melihat dengan mata kepala sendiri, di suatu kamar kost sedang asyik, tangan bermain hompimpa di balik kaos tank-top ketat, atau juga meniup terompet dari balik celana jeans gombrong khas anak muda. Tangan bergerilya membuka kaitan tali penyangga sementara bibir tak lepas memagut. Sang teman pulang dengan bercak putih kering di bagian depan celananya yang berusaha ditutupinya dengan jaket yang dijinjing di depannya. Yang tidak pernah ketahuan ibu kost ya jalan terus, yang kepergok ya harus buru-buru angkat kaki cari kos baru yang lebih kondusif. Seorang yang saya kenal, cantik, pintar, hamil di luar nikah, walaupun akhirnya bisa menikah, tetapi akhirnya sekarang malah kedua anaknya diculik oleh suaminya sendiri dan diasuh oleh orang tua sang suami nun jauh di Medan sana. Sang suami adalah adik kelas 3 angkatan di bawah teman saya. Masih kecil, tapi sudah bisa buat anak kecil… Seorang yang saya kenal, cantik, pintar, nilai cum-laude, tidak nerd, supel, jago ngocol, tak pernah menyentuh gaya hidup bebas, padahal situasi dan kondisi sama terbentang luas. Well, kamar no.1 sedang bergelung nafsu birahi, dan di waktu yang sama, kamar no.3 sedang berkutat nafsu akademis. Semuanya sama-sama akan mencapai titik klimaks kepuasan. Yang satunya big-O (karena ada sensasi adrenalin tambahan, yaitu ada kemungkinan kepergok), yang satunya lagi big- Oh karena menemukan jawaban tugas-tugasnya pada diktat yang sedang ditekuninya. Kamar no.1 diakhiri dengan penuh duka cita melahirkan seorang anak di luar nikah, dan kamar no.3 diakhiri dengan sangat suka cita melahirkan seorang sarjana cum-laude. Benteng yang dibangun untuk kamar no.1 adalah sedikit cinta, lebih banyak material hawa nafsu, dan terlalu banyak kepasrahan dan kepercayaan. Benteng yang dibangun untuk kamar no.3 adalah logika dan kesetiaan pada komitmen awal, yaitu visi dan misi yang sudah diseminarkan untuk diri sendiri dan orang tua. Sebenarnya saya ingin menambahkan iman, tetapi nanti malah terkesan sok religius. Karena iman langsung menyentuh setiap individu dari kita, telak dan tepat sasaran. Seharusnya sih begitu….
_________________________________ CATATAN Asmod: FOTO TPGimages
MODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: zeverina@kompas.co.id ; zeverina.koki@yahoo.co.id |
advertisement
|
|
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
|
|
About Kompas.com | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved |