|
|
|
Kolom Fotografi
/ Home / Kolom Fotografi /
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
DOF, ISO, Shutter Speed dan Matrix di fotografi
Janto Marzuki - Stockholm Kita kadang malas atau awang-awangen mau buka dan baca manual yang sering kita dapatkan bersamaan dengan kamera yang kita beli. Ehem.. apalagi kalau manualnya tebal terdiri dari 400 halaman, betul seperti jumlah lembaran manual sewaktu saya membeli kamera 2 bulan yang lalu. Weleh, plus bahasa di manual yang bukan dalam bahasa ibu saya, Jawa. Hehe... dari pada baca sendiri manual, ada yang memilih menanyakan ke ’pasukan berani mati’, yang duluan pernah mencoba dan salah (hmmm kadang pernah beruntung dan berhasil). Saya merasa termasuk kedua-duanya. Kali ini saya ingin berbagi tentang beberapa istilah yang sering kita dengar kalau kita memperbincangkan pemotretan. Mengingat P&S kamera atau compact camera banyak keterbatasan, di tulisan saya kali ini hanya menggunakan referensi kamera yang gede, kamera yang dapat diganti lensanya atau type DSLR (Digital Single Lens Reflex kamera, yang lensanya dapat diganti-ganti). Pada prinsipnya, parameter yang dipakai dasarnya sama. Hanya sebagai ’disclaimer’ dan perlu diketahui, saya tidak pernah sekolah atau kursus memotret sebelumnya, jadi photography hanya suatu hobi atau sekarang suatu aktifitas sebagai alasan saya dapat keluar rumah dan menambah teman. Dari hasil membaca manual juga di internet, try and error, berani gagal dan selalu menyimpan hasil jepretan tidak pandang gambarnya bagus atau jelek, saya dapat belajar dan memperbaiki hasil jepretan saya. Salah satu terminologi fotografi yang mak nyut... saya kepikiran dan ingin berbagi yaitu apa yang sering disebut DOF. Saya sendiri merasa baru setengah-setengah (hehe... atau malahan seperempat) kemampuan saya memotret. Saya sadar diatas langit masih banyak tumpukan dan lapisan langit. Jadi kalau ada Kokier atau Kokoer yang sudah mengetahui tentang DOF, silahkan skip tulisan kiriman saya ini. Yups, DOF adalah singkatan dari Depth Of Field dan artinya jarak yang jelas di gambar yang ada. Lha terus apa gunanya kita mengetahui soal DOF? DOF sendiri ketat hubungannya dengan panjang atau pendek lensa yang kita pakai sewaktu memotret plus juga besar kecil diafragma (mengatur sedikit/banyak cahaya yang akan menyoroti sensor) atau dalam bahasa Londo-nya ’apperture’ yang kita gunakan sewaktu kita njepret gambar. Kalau kita ingin memotret sesuatu misalnya saja dengan jarak 3 m dengan menggunakan lensa wideangle, DOF-nya (jarak yang jelas) di gambar akan lebih jauh atau panjang dibanding dengan kalau saja kita memotret dengan lensa tele meskipun dengan menggunakan apperture yang sama di kamera, misalnya saja f8. Haha... lensa tele saya malahan jarak yang paling dekat untuk memotret adalah 3,5 m! Memakai lensa tele yang terlalu panjang, obyek yang berada lebih dekat dari jarak tsb gambarnya akan menjadi kabur atau ’out of focus’. Demikian juga memotret obyek dengan jarak yang sama jauhnya misalnya 3 m, tetapi seandainya kita menggunakan apperture f4 akan kita dapatkan DOF yang lebih pendek atau kecil di hasil gambar jepretan dibanding dengan kalau saja kita menggunakan f16.
Gambar 1. DOF pendek - Gambar jalan dengan pagar halaman rumah dari kayu. Info: Nikon D200, lensa 34mm (18-200mm), f4.2, 1/320s, metering: Matrix, ISO 200. Tanpa flash dan tanpa tripod. Jarak titik fokus 3 m.
Gambar 2. DOF jauh - Gambar jalan dengan pagar halaman rumah dari kayu. Info: Nikon D200, lensa 32mm (18-200mm), f32, 1/15s, metering: Matrix, ISO 200. Tanpa flash dan tanpa tripod. Jarak titik fokus 3 m. Dapat anda perhatikan dari kedua gambar, di gambar 1 (DOF pendek) pagar kayu yang terdekat dan tiang listrik yang jauh maupun mobil yang diparkir dibawahnya kabur dibanding dengan yang ada di gambar 2 (DOF jauh).
Nah masih ada hubungan dengan DOF, kalau ada gambar yang latar belakangnya kabur dan primer obyeknya saja yang jelas, dapat saya tebak gambar tsb dipotret dengan memakai apperture terbuka (angka f kecil, misalnya saja f2.8 atau sampai f4) dan/atau menggunakan lensa tele sewaktu mengambil gambarnya. Sebaliknya kalau ada gambar pemandangan dengan detailnya jelas mulai dari jarak 1 m sampai sesuatu yang letaknya juauh, sampai pohon yang berada ditepi sawah juga tetap masih jelas, tentunya apperture kecil yang digunakan. Apperture kecil berarti di kamera dengan angka f-nya yang besar, misalnya saja f13, f16 atau f22. Sedangkan memotret macro, yaitu memotret sesuatu yang nantinya akan di-’rekam’ di sensor kamera menjadi sebesar aslinya biasanya lensanya sendiri mempunyai karakter DOF yang kecil/pendek. Dan kalau memotretnya menggunakan DSLR seperti punya saya, perlu dan sebaiknya memakai jenis lensa khusus yaitu lensa macro sewaktu ingin motret macro. Memotret dengan menggunakan lensa macro jarak yang dipakai dapat dekat sekali ke obyeknya, dapat terjadi hanya dengan jarak 10-15 cm! Lensa macro yang ’pas’ ukurannya, agar tidak jauh dan tidak terlalu dekat sewaktu memotret (hehe... keburu kupu-kupunya terbang) untuk kamera DSLR menurut saya adalah 105mm. Kadang ada yang menggunakan istilah ’Bokeh’ untuk menggambarkan DOF yang kecil atau pendek di gambar, atau Inggrisnya ’Blur’. Bokeh asal mulanya orang Jepang yang menggunakan, dan berarti tidak jelas atau kabur. ”Bagus bokehnya,” berarti gambar dengan latar belakang (juga foreground kalau ada) yang kabur, oleh karena ’out of focus’ dan remang-remangnya yang halus. Jadi sekarang kalau anda ingin memotret dengan ’bokeh’ yang bagus, sudah tahu apa artinya dan rahasianya dan silahkan mencoba.
Gambar 3. DOF atau Bokeh - Gambar cantolan besi di batu (diameter 7cm). Info: Nikon D200, lensa 200mm (18-200mm), f5.6, 1/40s, metering: Matrix, ISO 200. VR=On, tanpa flash dan tanpa tripod. Jarak titik fokus ke obyek 80cm. Agar latar belakang menjadi kabur saya atur apperture terbuka (angka f kecil) dan memakai tele.
Istilah photography lain yang juga sering disebut adalah ISO. Dulu sewaktu memotret dengan menggunakan film istilah ini sering disebut dengan ASA dan yang berarti satuan untuk menunjukkan kecepatan zat kimia yang berada di film ’terbakar’ (bereaksi) begitu kena cahaya yang masuk ke kamera lewat lubang di lensa. Semakin besar angka ISO berarti semakin cepat zat kimia tsb terbakar atau dengan kata lain lebih sensitif. Memotret di suasana yang gelap tanpa menggunakan bantuan flash diperlukan ISO yang tinggi. Sedangkan kalau kita menginginkan gambar yang halus, mulus sebaiknya memakai ISO yang rendah. Jadi memotret dengan ISO yang lebih tinggi mengakibatkan semakin kasar hasil gambar kita. Oleh karena itu ISO mempunyai erat hubungan dengan kecepatan yang kita gunakan sewaktu menjepret gambar, kecepatan atau lama waktu cahaya yang kita loloskan dan persilahkan untuk menerangi sensor (dulu film) di kamera kita. Dengan ISO rendah diperlukan waktu atau shutter speed yang lama, dan sebaliknya ISO tinggi tidak perlu menggunakan shutter speed yang tinggi.
Gambar 4. ISO Tinggi – Seorang ibu main bowling. Info: Nikon D200, lensa 85mm, f1.8, 1/250s, metering: Spot, ISO 1600. Tanpa flash dan tanpa tripod. Digambar ini saya utamakan gambar ibu tsb dapat terrekam di gambar dan tidak akan menjadi ’bayangan’. Disamping itu saya menginginkan cahaya yang ada di bowling hall agar lebih natural. Karena itu ISO saya set ke 1600 dan speed agak cepetan. Agar dapat menunjang permintaan pembukaan dari apperture, saya gunakan lensa yang cukup sensitif yaitu dengan f1.8. Dapat anda perhatikan hasil gambar dengan ISO yang tinggi gambar menjadi kasar (noise).
Gambar 5. ISO Rendah - Gambar Gamlastan (Old Town) Stockholm diwaktu winter dan malam hari. Info: Nikon D200, lensa 34mm (18-200mm), f22, 72,5s, metering: Matrix, ISO 100. VR=Off, tanpa flash tapi pakai tripod dan remote shutter. Saya utamakan DOF yang jauh dan gambar halus, dengan itu saya set apperture ke 22, ISO memakai 100 dan waktu yang diperlukan untuk menjepret terpaksa menjadi lama, yaitu 1 menit dan 12,5 detik! Menjadi teringat waktu itu dinginnya minta ampun... hehehe... Bandingkan kehalusan hasil gambar dengan gambar nr 4, gambar ibu yang sedang main bowling.
Beberapa parameter ternyata saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Shutter speed berpengaruh di gambar yang telah kita jepret. Kalau obyek tidak bergerak dan suasana yang terang, dengan speed berapa saja gambar akan bagus dan tidak bermasalah. Dengan menggunakan shutter speed yang terlalu rendah untuk obyek yang bergerak mengakibatkan ’setan yang bergentayangan’ dihasil gambar kita. Tetapi, hehe... oleh karena itu, seandainya saja kita dengan sadar memakai kecepatan yang sangat (sangat!) pelan sekali sewaktu memotret, kita dapat menghilangkan orang maupun kendaraan yang berseliweran! Demikian juga kalau ingin memotret air yang mengalir dan menginginkan agar supaya air yang mengalir tsb hasilnya seakan sutera halus, tentukan shutter speed ke agak lamaan, ke 1/6sec sampai 1sec. Memotret dengan shutter speed yang rendah gampang sekali kamera goyang. Untuk mengakali agar tidak goyang paling tepat menggunakan bantuan tripods plus remote control. Kalau obyeknya hanya 3-5 cm dari tanah terpaksa saya memakai ’kantung kedelai’ (beanbag) dengan cara motretnya memakai gaya ’ndlosor’, bertiarap sejajar dengan tanah. Kamera saya tumpukan ke kantung kedelai dan menjadi stabil sewaktu saya meng-klik kamera.
Gambar 6. MIX ISO, DOF dan Speed - Gambar stasiun Tunnelbana (Metro) Solna Stockholm. Info: Nikon D300, lensa 12mm (12-24mm), f11, 0/77s, metering: matrix, ISO 400 dan ’expose bias’ saya tambah +0,7. Tanpa flash tapi memakai tripod. Disini saya pakai apperture relatif kecil yaitu f11 agar DOF agak jauh. Saya tidak mau memakai ISO yang terlalu tinggi sebab saya menginginkan gambar yang relatif halus. Dengan ISO sedang menjadikan shutter speed menjadi agak pelan, karena itu saya pakai tripod. Saya menginginkan kereta yang lagi jalan menjadi lebih hidup, sedikit ‘bergoyang’ atau menunjukkan kecepatan dari gerakannya dan dengan itu shutter speed yang tidak terlalu cepat diperlukan.
Sekalian mumpung lagi kesengsem nulis, ada lagi istilah Matrix metering. Matrix disini bukan Matrix seperti di film/TV. Tetapi salah satu cara kamera mengukur terutama cahaya sewaktu dan begitu kita tekan tombol kamera ’mak klik’. Seperti di kamera saya dan saya kira juga standard di kebanyakan DSLR kamera yang ada dipasaran, cara pengukuran motret atau ’measure expose’ dibagi menjadi 3 cara, yaitu 1.Matrix (biasa sebagai default sewaktu kita beli kamera), terus yang ke 2. Center- Weighted Area atau kadang disebut Weight -Average dan ke 3.Spot Metering. Biasanya cara pengukuran ini ditandai dengan berbagai symbol di kamera. Dari pengalaman saya memotret, 80% saya memakai cara matrix untuk expose metering sewaktu memotret. Pengukuran secara matrix, artinya kamera mengukur semua data yang ada ’diseluruh’ titik-titik yang ada di sensor kamera dan kemudian dihitung hasil rata-ratanya. Selama suasana kita sewaktu mengambil gambar normal, tidak terlalu mendung, tidak panas menyengat, sasaran tidak terhalang oleh tembok maupun terlindungi oleh dedaunan, pengukuran matrix tidak akan menjadi masalah. Gambar akan selalu prima. Tetapi kalau kita memotret seorang model dan matahari pas berada dibelakangnya, pengukuran dengan cara matrix kurang tepat untuk digunakan. Wajah sang model akan gelap gulita kalah dengan kuatnya sinar matahari yang datang dari belakang.
Gambar 8. Matrix - Gambar teman anak saya di departure hall airport, cahaya dari belakang. Info: Nikon D200, lensa 48mm (18-200mm), f5.6, 1/125s, metering: Matrix, ISO 100. VR=On, tanpa flash dan tanpa tripod. Oleh karena data pengukuran diambil rata-rata dari seluruh sensor di viewfinder, wajah model menjadi gelap.
Untuk menghindari hasil gambar seperti diatas, kita dapat menggunakan cara nr 2, yaitu Center-Weight Area atau Weight-Average. Pengukuran memotret berdasarkan parameter yang dapat ditangkap dibulatan (lingkaran) yang ada di sensor kamera. Di beberapa DSLR kamera, besar lingkaran pengukuran cahaya dapat kita atur sesuai keperluan, seperti dengan diameter 6mm, 8 (default), 10 atau 13mm. Contoh penggunaan cara pengukuran dengan Weight-Average misalnya saja sewaktu kamera/lensa kita arahkan ke wajah model, kamera akan mengukur hanya informasi yang ada di wajah tsb tanpa menghiraukan suasana sekelilingnya. Latar belakang yang gelap atau terang tidak menjadi masalah, wajah model akan tetap dengan warna dan cahaya yang pas (ideal). Seandainya latar belakangnya terang, efek di gambar hasil jepretan dengan pengukuran secara Center-Weight Area, latar belakang akan menjadi lebih terang dari yang biasanya dibanding dengan kalau kita menggunakan matrix. Pengukuran dengan diameter yang lebih kecil juga dapat digunakan untuk memotret model, yaitu dengan menggunakan cara Spot Metering seperti saya tulis dibawah.
Gambar 9. Spot - Gambar teman anak saya di departure hall airport, cahaya dari belakang. Info: Nikon D200, lensa 65mm (18-200mm), f5, 1/20s, metering: Spot, ISO 100. VR=On, tanpa flash dan tanpa tripod. Oleh karena data pengukuran diambil secara Spot ke wajah model, wajah model menjadi pas terangnya meskipun mengakibatkan latar belakang menjadi terlalu terang.
Haha... ingat jaman dulu, kalau mau motret harus kita perhatikan matahari berada dimana. Kita usahakan memotret matahari selalu dibelakang kita dan menyoroti obyek. Itu dulu, sekarang tidak menjadi masalah, saya pilih dan pakailah pengukuran dengan cara weight-average untuk motret wajah seseorang. Saya sekarang kalau memotret malah sering memilih untuk sedikit melawan matahari, atau kalau memotret landscape dengan lensa wide-angle dan menunggu kalau lagi mendung sebelum hujan turun agar gambar lebih men-drama. Cara pengukuran memotret yang nr 3 adalah Spot Metering, suatu pengukuran pada satu titik tanpa menghiraukan ’cahaya’ (parameter) yang ada disekelilingnya. Cara ini biasa saya gunakan kalau saya misalnya ingin memotret burung yang lagi terbang atau sesuatu yang bergerak dan saya tidak ingin kehilangan obyek (fokus). Cara ini juga efektif untuk memotret semut di semak belukar yang banyak rantingnya, pengukuran gambar dapat konsentrasi hanya ke semut tanpa kuwatir ada gangguan cahaya dari sela-sela ranting disekelilingnya.
Gambar 7. Spot dan Speed - Gambar burung camar yang lagi terbang. Info: Nikon D200, lensa 200mm (18-200mm), f5.6, 1/500s, metering: Spot, ISO 200. VR=On, tanpa flash dan tanpa tripod. Untuk dapat mengikuti burung terbang dan mengambil gambar diperlukan shutter speed agak cepat, sepert 1/500sec, sedangkan ISO cukup memakai ISO 200 agar apperture menjadi terbuka (angka f kecil). Saya menginginkan latar belakang objek kabur. Cara metering saya gunakan Spot untuk meyakinkan hanya burungnya saja yang akan diukur pencahayaannya oleh kamera.
Untuk mengukur ’object in focus’ dan yang selanjutnya akan menjadi dasar dari pengukuran parameter yang lainnya, di beberapa jenis kamera DSLR tidak selalu berada ditengah gambar. Titik tempat mengukur fokus di viewfinder DSLR dapat kita atur atau pindah/geser sesuai dengan kemauan kita. Didalam proses mengambil gambar, saya belajar untuk menentukan ’apa’ yang ingin saya tonjolkan dari gambar tsb, dan parameter ’apa’ yang akan saya tentukan menjadi pilihan ’primer’ didalam mengeset prenak-prenik di kamera yang akan saya gunakan. Seperti di contoh gambar yang saya lampirkan, juga termasuk beberapa gambar yang pernah saya kirim dan melampiri tulisan saya sebelumnya di KoKi. Sudah ach, sekian dulu uraian singkat mengenai DOF, ISO, Shutter Speed dan Measure-Expose (Matrix, Center-Weight dan Spot) dari saya. Silahkan kalau ingin mengkomentari, mengkompliti maupun mengkoreksi tulisan saya. Saya akan senang sekali dan terima kasih. Saya merasa masih banyak yang harus belajar, saya masih belum ’tutug’ (selesai) membaca manualnya, hehehe... Nuwun; Janto Marzuki – Stockholm (yang lagi kesenengan belajar memotret)
MODERATOR - Penanggungjawab KoKi: ZEVERINA Pembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: zeverina@kompas.co.id ; zeverina.koki@yahoo.co.id
|
advertisement
|
|
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
|
|
About Kompas.com | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved |