|
|
|
KoKiLife
CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Jasa Guru
Juwita - Australia Hallo Zev dan rekan KoKiers, Beberapa waktu lalu saya menghubungi beberapa alumnus sekolah SMAN 1 TEGAL dengan tujuan menuliskan ungkapan rasa terima kasih kepada para guru dan tentang kenangan semasa di sekolah. Berikut ini penuturan beberapa alumnus angkatan tahun 1980. Irawati As: Terima kasih kami Pendidikan membuat kita menjadi manusia yang berkualitas dan mampu untuk menjawab tantangan jaman yang selalu berubah. Di Hari Pendidikan Nasional ini, ijinkan kami alumnus SMA Negeri 1 – TEGAL angkatan tahun 1980 untuk mengucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Guru kami. Terima kasih disertai dengan rasa hormat dari kami kepada Bapak dan Ibu Guru periode 1977-1980. Bpk. Abdurahman, Bpk. Apun K., Bpk. Asmui, Bpk. Fakhrudin, Bpk. Gatot, Bpk. Machali, Bpk. Marwadi, Bpk. Maryanto, Bpk. Muchyi, Bpk. Muktamad BA, Bpk. Nur Martiono, Bpk. Piek Ardiyanto, Supriyadi, Bpk. Ronas Harun (Kepala Sekolah), Bpk. Rustono, Bpk. Sarjono, Bp. Sensunar, Bpk. Sudiyanto, Bpk. Sumito, Bpk. Suroto, Bpk. Sutjiningrat, Bpk. Sutopo, Ibu. Anjari, Ibu Endang Lestari, Ibu Heni, Ibu Itiningsih, Ibu Nurmarini, Ibu. Nurinah, Ibu Purnamawati, Ibu Sri Dalinah (Kepala Sekolah), Ibu Sulastri,Ibu Tien Partinah, Ibu Wiwiek.
Arko: Mengenang SMA Negeri Tegal 30 tahun yang lalu. Sekarang, sekolah itu bernama SMUN I Tegal. Tiga puluh tahun yang lalu, saat belum ada SMAN yang lain – sekolah itu bernama SMAN Tegal. Letaknya cukup strategis, tidak terlalu jauh dari pusat kota (alun-alun) – hanya sekitar 1 km, namun masih dekat dengan persawahan juga (pada saat itu), sehingga kalau kami olah raga lari cross-country masih melalui persawahan. Di dekat SMAN Tegal, sarana olah raga cukup komplet, ada stadion Yos Sudarso dan Kolam Renang Samudera. Peta letak SMAN Tegal dapat dilihat di link : 30 tahun yang lalu (1978) terjadi peristiwa yang cukup menghebohkan di SMAN Tegal. Para siswa melakukan demonstrasi dan mogok belajar ( menuntut penurunan uang SPP / BP3 ? ). Situasi rusuh tersebut sebenarnya ada kaitannya dengan buku putih – mahasiswa ITB yang menimbulkan gejolak demo di kampus ganesha tsb. Ada provokator eksternal yang menunggangi gerakan siswa tersebut, untung saja demo tersebut tidak sampai menimbulkan kerusakan2 yang berarti dan hanya berlangsung 2 hari. Mogok belajarnya hanya 2 hari, tapi kami harus menjalani perpanjangan masa belajar sampai 6 bulan sehingga kami menjalani masa belajar klas 2 selama 1,5 tahun. Eh, nggak ding…. perpanjangan masa belajar tersebut bukan karena kami mogok belajar 2 hari tapi memang program nasional yang menimpa semua pelajar dan mahasiswa pada saat itu. Karena lamanya masa belajar di klas 2 tersebut, maka teman-teman SMA yang paling diingat dan paling akrab adalah teman-teman klas 2. Beberapa guru SMAN Tegal yang masih saya ingat antara lain : P.Sutji (Ratmana Sutjiningrat), guru yang bisa membuat Fisika menjadi pelajaran yang menarik. Mengajar pelajaran yang menggunakan otak kiri namun beliau sering menggunakan otak kanan untuk menghasilkan karya2 sastra. Selama diajar oleh beliau nilai Fisika saya tidak pernah lebih kecil dari 8, tapi bukan karena saya jago Fisika. Saya bisa dapat nilai bagus karena saya memahami karakter beliau, misalnya kalau membuat soal Multiple Choice, jawabannya pasti membuat pattern tertentu. Jadi, kalau mengerjakan soal2 dari beliau saya cukup mengerjakan sebagian soal yang mudah2 dan dianalisis pattern-nya seperti apa, soal yang sulit dijawab saja sesuai pattern-nya. Terima kasih P. Sutji, selain mendapat ilmu Fisika, saya mendapatkan banyak ilmu tentang hidup dari Bapak. P. Abdurahman, guru Kimia yang menyelamatkan saya dari jurusan yang salah. Waktu klas 2 (yang dilalui selama 1,5 tahun – januari 1978 – Juni 1979) karena ada kesalahapahaman terhadap satu kejadian pada saat terjadi demonstrasi murid, beliau sempat memberi nilai 4,5 untuk pelajaran Kimia raport saya. Nilai tersebut yang menyelamatkan saya dari jurusan yang tidak saya minati (karena ada nilai Kimia 4,5 tsb saya tidak lulus seleksi Perintis II, dan akhirnya ikut Perintis I dan lulus diterima di jurusan sesuai minat). Terima kasih, P. Abdurahman, salah sasaran yang bapak lakukan ternyata ada hikmahnya. P. Suroto (Mantan Kepala Sekolah SMUN I Tegal sebelum digantikan P.Surono), waktu itu merupakan guru baru. Mengajar Kimia di semester akhir Klas 2 (menggantikan P. Abdurahman). Saya yang waktu itu ingin membuktikan bahwa nilai 4,5 itu salah, sehingga berusaha all-out belajar Kimia. Saya yakin benar menguasai pelajaran Kimia tersebut dan yakin setiap ulangan pasti dapat 100. Namun ternyata di raport saya hanya diberi nilai 6,5…. lho ? Karena sudah terbiasa diskusi di kelas dengan P. Suroto saya berani menanyakan mengapa nilai saya cuma 6,5 dan ternyata dijawab bahwa dari satu raport ke raport berikutnya nilai tidak boleh naik lebih dari 2 point. Padahal pada raport terdahulu nilai tsb turun sampai 4 point. Anyway, terima kasih P. Suroto, ke-baru-an Bapak waktu itu telah membuat kami lebih berani berkomunikasi dengan guru. Bu Endang, merupakan guru wanita termuda (saat itu) – mengajar PMP. Kami paling senang diajar oleh Bu Endang karena seperti diajar oleh teman sendiri. Saat itu, mungkin ada beberapa sikap kami yang kurang pada tempatnya sehingga Bu Endang pernah sampai menangis di beberapa klas 2. Maafkan sikap kami saat itu Bu Endang…. P. Rustono, guru paling diam yang mengajar matematika. Dengan gaya diamnya dan langkah-langkah beratnya, sosok beliau menjadi momok yang menyeramkan bagi seluruh siswa. Beliau nggak pernah marah bila kami tidak bisa mengerjakan soal di depan (ya… model mengajarnya memang dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal didepan), namun rasa malu membuat kami terpacu untuk belajar matematika lebih giat. Terima kasih P. Rustono, yang telah memotivasi kami dengan cara unik. Demikian gambaran situasi belajar kami 30 tahun yang lalu dan beberapa profil Guru, pahlawan tanpa tanda jasa, yang telah ikut membentuk kami menjadi seperti saat ini. Terima kasih para Guruku, kami mohon doa restu untuk dapat terus menebar manfaat di kehidupan ini. Semoga dari manfaat yang kami tebar tersebut sebagian akan menjadi pahala buat para Guru sebagai bekal di kehidupan abadi nanti.
Mohammad Rozak: Menjadi Suka Membaca Ketika saya bersekolah di SMAN 1 Tegal, Jurusan IPA, antara tahun 1977 hingga pertengahan tahun 1980, banyak kenangan yang tidak bisa saya lupakan. Terutama Bapak dan Ibu Guru yang dulu mengajar saya. Dari sekian banyak Bapak dan Ibu Guru yang pernah mengajar saya, salah satu yang masih saya ingat adalah Ibu Itiningsing. Beliau mengajar Bahasa Indonesia dan Kesenian (Sastra), ketika saya duduk di kelas II IPA-2 tahun 1978 hingga pertengahan tahun 1979. Yang menarik dari Ibu Itiningsih, dan itu baru saya sadari manfaatnya justru setelah saya lulus SMA adalah pengetahuannya yang luas mengenai karya-karya sastra dunia. Hal ini terjadi karena beliau suka membaca. Beliau bisa menceritakan isi atau jalan cerita karya-karya sastra dunia dengan rinci, dan dengan artikulasi yang jelas. Itu menandakan bahwa beliau adalah seorang guru yang gemar membaca, terutama karya sastra. Kebiasaan baik yang mungkin jarang dilakukan oleh guru Bahasa Indonesia masa kini. Saya yang ketika itu tidak suka membaca dan tidak tertarik dengan sastra menjadi bersemangat mendengarkan beliau menjelaskan tentang karya-karya sastra, baik karya sastra dunia mau pun Indonesia. Ketika itu Ibu Itiningsih sudah mengenalkan karya-karya sastra dunia kepada kami murid-muridnya. Misalnya Doctor Zhivago karangan pengarang Russia, Boris Pasternak. The Old Man and the Sea, karangan Pengarang Amerika Serikat, Ernest Hemingway. Don Quixote, karangan sastrawan Spanyol, Miguel de Cervantes Seavedra, atau The adventures of Pinocchio (Carlo Colloci), The Adventures of Tom Sawyer (Mark Twain), David Copperfield (Charles Dickens), serta pengarang-pengarang dunia lainnya. Tidak ketinggalan, beliau juga mengenalkan beberapa pengarang/sastrawan Indonesia terkemuka, seperti YB Mangunwijaya, Pramoedya Ananta Toer, dll. Ketika saya lulus SMA dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, rasa penasaran saya semakin tinggi untuk lebih mengetahui isi cerita karya-karya sastra dari pengarang-pengarang dunia tersebut. Oleh karena itu beberapa terjemahan dari buku yang saya sebutkan di atas akhirnya saya beli. Kebiasaan saya untuk membeli buku, meskipun hanya satu atau dua buku, berlangsung hingga sekarang. Dan secara tidak disadari, kebiasaan ini, sedikit demi sedikit membuat saya yang tadinya tidak suka membaca menjadi suka membaca. Dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei, sudah sepatutnya saya berterimakasih kepada Ibu Itiningsih. Semoga Ibu selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Amin. Besar jasa dan pengorbanan Bapak dan Ibu Guru. Terima kasih kami bagimu Pahlawan bangsa.
Pembaca KCM entah di Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, silakan berbagi pengalaman seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui email: zeverina@kompas.co.id ; zeverina.koki@yahoo.co.id
|
advertisement
|
|
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
|
|
About Kompas.com | Info iklan | Privacy policy | Terms of use| Karir | Contact Us
© 2008 - 2009 Kompas Gramedia. All rights reserved |